Bayangkan seorang perempuan menggunakan kecerdasan buatan pada pagi hari untuk mengembangkan usahanya. Ia menggunakan bantuan AI untuk belajar memasarkan produk, mencari ide desain produk dan membuat konten media sosial. Bukan karena tidak mau menambah karyawan, tapi memang usahanya masih kecil. Namun, pada sore harinya, perempuan yang sama menerima sebuah video dari grup Whatsapp. Muncul seorang pejabat dengan suara yang meyakinkan. Isinya penjelasan tentang cara mendaftar bantual sosial. Perempuan itu kemudian mengikuti instruksi dan membuka link yang dibagikan. Baru sadar itu penipuan setelah kehilangan sejumlah uang.

Dua peristiwa tersebut memperlihatkan wajah kecerdasan buatan yang berbeda. Di satu sisi, AI dapat menjadi alat pemberdayaan yang membuka peluang ekonomi. Membantu usaha kecil untuk berkembang di tengah keterbatasan sumber daya manusia. Di sisi lain, teknologi yang sama dapat menjadi instrumen manipulasi dan penipuan. Karena itu, persoalan perempuan di era AI bukan semata-mata apakah mereka mampu menggunakan teknologi tersebut. Tapi juga apakah mereka mampu menggunakannya secara produktif sekaligus kritis.

Perempuan berkemajuan di era kecerdasan buatan bukan sekadar perempuan yang mampu bertanya kepada AI. Tapi juga memahami AI bisa digunakan untuk apa saja, termasuk membuat konten-konten hoax dan penipuan. Baik berupa video maupun gambar.



AI dan Peluang Ekonomi Perempuan

Memang perkembangan AI menghadirkan peluang yang sangat besar bagi perempuan. Teknologi ini dapat membantu mengatasi persoalan yang selama ini menjadi tantangan bagi banyak pelaku usaha kecil. Seperti keterbatasan waktu, tenaga, pengetahuan, biaya pemasaran, dan akses terhadap sumber daya profesional.

Hal tersebut bukan sekadar asumsi. Survei Cherie Blair Foundation for Women bersama Intuit dan World Bank terhadap 3.072 perempuan wirausaha di 66 negara berpendapatan rendah dan menengah menunjukkan peningkatan penggunaan AI yang sangat signifikan. Dalam satu tahun, proporsi perempuan wirausaha yang menggunakan AI meningkat dari 38 persen menjadi 82 persen. Sebanyak 45 persen bahkan menggunakannya setiap hari.

Manfaat yang dirasakan juga tidak berhenti pada kemampuan membuat konten. Sebanyak 69 persen responden mengatakan AI membantu menghemat waktu, 42 persen merasakan peningkatan inovasi atau kemampuan baru, 35 persen melaporkan peningkatan keterlibatan pelanggan, dan 34 persen melaporkan peningkatan penjualan. Penggunaannya pun mencakup berbagai aspek bisnis, terutama pemasaran, pembelajaran, dan desain.

Contoh yang menarik dari penelitian Sri Erina, dkk dalam Jurnal Ilmiah Teknik Informatika berjudul Transformasi Digital Technopreneurship Perempuan melalui Business Model Canvas Berbasis Artificial Intelligence Vol.15, No.2, Juli 2026. Saparantu Ecocraft, komunitas perajin perempuan di Desa Bojong, Kabupaten Cianjur, mengintegrasikan ChatGPT, Midjourney, dan Canva AI dalam pengembangan model bisnis mereka. Berdasarkan penelitian tersebut, pemanfaatan teknologi tersebut dilaporkan berkontribusi pada penurunan biaya operasional pemasaran dari Rp2 juta menjadi Rp300 ribu per bulan, menghasilkan lima jenis produk interior baru, meningkatkan trafik digital sebesar 300 persen, serta meningkatkan konversi penjualan sebesar 45 persen. Kesiapan digital para perajin juga dilaporkan meningkat dari skor 1,8 menjadi 4,4 pada skala lima.

Kasus tersebut tidak berarti AI sendirilah yang menciptakan keberhasilan bisnis. Di balik teknologi tetap ada kreativitas, pengalaman, keputusan bisnis, dan kerja manusia. Justru di situlah letak pentingnya AI: bukan menggantikan kemampuan perempuan, tetapi memperluas kemampuan yang sudah mereka miliki.

Ketika Teknologi yang Sama Menjadi Alat Penipuan

Kemampuan AI menghasilkan gambar, suara, dan video yang menyerupai kenyataan telah melahirkan tantangan baru dalam kehidupan digital: deepfake.

Indonesia telah mengalami berbagai kasus penyalahgunaan teknologi ini. Salah satunya adalah beredarnya video yang dibuat seolah-olah Presiden Prabowo Subianto menawarkan bantuan kepada masyarakat. Video tersebut disebarkan melalui berbagai platform digital, termasuk TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Korban kemudian diarahkan untuk menghubungi nomor tertentu dan membayar biaya administrasi yang disebut berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp1 juta. Kasus tersebut dilaporkan menjangkau masyarakat di setidaknya 20 provinsi.

Kasus semacam ini memperlihatkan perubahan besar dalam persoalan literasi digital. Dahulu, masyarakat cukup diingatkan untuk tidak mudah mempercayai judul berita atau foto yang beredar di internet. Kini tantangannya jauh lebih kompleks. Bagaimana jika wajah orang yang kita kenal benar-benar terlihat? Bagaimana jika suaranya terdengar persis seperti aslinya? Bagaimana jika gerak bibir dan ekspresinya tampak meyakinkan?

Pada titik inilah literasi AI harus bertemu dengan literasi informasi. Masyarakat perlu memahami bahwa sesuatu yang terlihat nyata belum tentu benar. Video bukan lagi selalu bukti. Suara bukan lagi selalu identitas. Bahkan wajah seseorang dapat digunakan tanpa persetujuannya.

Ancaman tersebut juga tidak hanya menempatkan perempuan sebagai konsumen yang berpotensi menjadi korban penipuan. Perempuan juga dapat menjadi korban penyalahgunaan identitas digital. Kasus deepfake yang menggunakan wajah supermodel Gisele Bündchen dalam iklan penipuan di Brasil menunjukkan bagaimana citra seorang perempuan dapat digunakan untuk membangun kepercayaan palsu. Kasus lain yang melibatkan influencer perempuan menunjukkan bahwa wajah mereka dapat dimanipulasi untuk seolah-olah mendukung produk yang sebenarnya tidak pernah mereka promosikan.

Dari “Melek AI” Menjadi “Cakap AI”

Di tengah perubahan tersebut, konsep literasi AI bagi perempuan perlu diperluas.

Melek AI tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan ChatGPT, membuat gambar dengan AI, atau menghasilkan tulisan secara otomatis. Kemampuan teknis memang penting, tetapi itu baru lapisan pertama.

Perempuan membutuhkan setidaknya tiga kemampuan.

Pertama, create: kemampuan menggunakan AI untuk menciptakan peluang. AI harus dapat dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, berwirausaha, berinovasi, memasarkan produk, dan meningkatkan pendapatan.

Kedua, check: kemampuan memeriksa dan mempertanyakan informasi yang dihasilkan atau disebarkan melalui AI. Perempuan perlu memiliki kebiasaan memverifikasi sumber, melakukan pengecekan silang, mengenali manipulasi visual dan audio, serta memahami bahwa AI juga dapat menghasilkan informasi yang keliru.

Ketiga, protect: kemampuan melindungi diri dari risiko AI. Ini mencakup keamanan data pribadi, perlindungan identitas digital, kewaspadaan terhadap penipuan, serta pemahaman mengenai penyalahgunaan foto, wajah, dan suara.

Dengan tiga kemampuan tersebut, perempuan tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi menjadi pengguna AI yang berdaya dan waspada.

Membangun Gerakan Perempuan Cakap AI

Gagasan mengenai perempuan yang cakap AI sebenarnya bukan sesuatu yang utopis. Berbagai inisiatif telah menunjukkan bahwa literasi AI bagi perempuan sudah mulai tumbuh.

Di Indonesia terdapat Perempuan PandAI AI, sebuah inisiatif yang menargetkan pelatihan AI bagi 100.000 perempuan Indonesia. Ada pula program IBU CERDAS AI yang menggabungkan sosialisasi, pelatihan, praktik, pendampingan, dan evaluasi untuk meningkatkan pemanfaatan AI dalam kehidupan keluarga sekaligus kesadaran keamanan digital.

Pada tingkat global, terdapat AI For Her yang menyediakan sumber belajar dan program literasi AI bagi perempuan dan gender minorities. Society of Women Coders juga menunjukkan bahwa pendidikan teknologi bagi perempuan telah berkembang menjadi gerakan global.

Kolaborasi Indonesia AI Institute dengan UN Women Indonesia juga memperlihatkan pendekatan yang penting: literasi AI tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengajak peserta berpikir kritis mengenai pengaruh AI terhadap masyarakat dan kehidupan sehari-hari.

Berbagai inisiatif tersebut dapat menjadi fondasi untuk membangun gerakan yang lebih luas: Gerakan Perempuan Cakap AI.

Gerakan ini dapat diarahkan ke tiga ruang utama. Pertama, ruang ekonomi melalui pelatihan AI bagi pelaku UMKM, pekerja, pencari kerja, dan perempuan kreatif. Kedua, ruang pendidikan melalui penguatan kemampuan berpikir kritis dan verifikasi informasi. Ketiga, ruang perlindungan melalui edukasi mengenai keamanan data, deepfake, penipuan digital, dan penyalahgunaan identitas.

Pemerintah dapat mengintegrasikan literasi AI perempuan ke dalam program pemberdayaan ekonomi, pelatihan UMKM, pendidikan keterampilan kerja, dan transformasi digital di tingkat komunitas. Dunia usaha dapat berkontribusi melalui mentorship dan akses teknologi. Sementara itu, komunitas dapat menjadi ruang belajar yang lebih dekat dan mudah dijangkau.

Yang tidak kalah penting, pendekatan tersebut harus memastikan bahwa perempuan bukan hanya menjadi objek pelatihan, tetapi juga menjadi pencipta dan pengambil keputusan dalam ekosistem AI.

Jika AI dapat membantu perempuan menciptakan peluang ekonomi, maka literasi AI harus pula membantu perempuan melindungi dirinya dari risiko yang diciptakan teknologi yang sama.

Sebab pada akhirnya, perempuan berkemajuan di era kecerdasan buatan bukanlah perempuan yang selalu memiliki jawaban dari AI. Ia adalah perempuan yang tahu kapan harus menggunakan AI untuk menciptakan peluang, dan kapan harus berhenti sejenak untuk mempertanyakan kebenaran di baliknya.

Perempuan tidak cukup hanya melek AI. Perempuan harus cakap AI: berdaya untuk menciptakan masa depan, dan waspada untuk menjaganya.

 

Sebelum datang ke Bioskop, aku tidak berekspektasi apa-apa tentang film The Odyssey. Bahkan sempat mikir, bakalan bosen gak ya nonton film dengan durasi tiga jam kurang dua menit ini? Tapi ternyata, kisah perjalanan Odysseus untuk pulang ke Ithaca sungguh memikat dan mendebarkan.

Film The Odyssey disutradarai oleh Christopher Nolan, mengadaptasi salah satu karya sastra epic The Odyssey karya penyair Yunani Kuno, Homer. Setelah sedikit mencari informasi tentang Odysseus, ada perbedaan tentang alur cerita kepulangannya. Kisah lain, ada yang tidak sama alurnya dengan film. Seperti, dalam filmya Odiysseus hanya sendirian ketika bertemu Calypso. Di kisah lainnya, dia masih bersama awak kapal ketika bertemu Calypso.

Perjalanan Odysseus menjadi penuh rintangan karena campur tangan dewa. Odysseus yang terkenal cerdik dan banyak akal, menjadi sombong dan tidak berfikir secara bijak setelah merasa berjasa dalam memenangkan peperangan. Misalnya ketika dalam film dia melukai Cyclops yang ternyata adalah adalah anak Poseidon. Cyclops itu kemudian berdoa kepada ayahnya untuk membuat perjalanan Odysseus gagal, dia harus kehilangan sahabat-sahabatnya, kehilangan kapal dan semua yang dimiliki. Poseidon yang menguasai lautan pun memberikan badai dasyat kepada Odysseus dan awak kapalnya.


Beberapa rintangan ditemui Odysseus dan awak kapalnya dalam perjalanan selain Cyclops. Dia bertemu dengan penyihir Circe yang memiliki kemampuan mengubah manusia menjadi hewan, para Siren, pulau dengan manusia raksasa yang menghancurkan dua kapalnya, pulau dewa matahari dengan ternak suci yang tidak boleh dimakan dan monster laut.

Setelah mengalami banyak kesulitan selama 10 tahun, Odyssesus yang tinggal seorang diri terdampar di Pulau Ogygia. Di sana ia diselamatkan oleh nimfa Calypso. Tapi meskipun diselematkan, Odysseus diberi makan bunga teratai yang bisa menghilangkan ingatan. Odysseus Kembali terjebak dalam pulau itu selama 7 tahun. Meskipun ingatannya sempat hilang, tekad Odysseus untuk pulang dan bertemu dengan keluarganya membuat alam bawah sadarnya mencari cara untuk pulang. Odysseus mengumpulkan kepingan-kepingan kayu sisa kapalnya untuk membuat rakit. Melihat tekadnya itu, Dewa Calypso akhirnya membebaskannya. Perlahan membantunya mengingat kembali dan melarangnya memakan bunga teratai.

Sementara itu, di Ithaca, Penelope tetap setia menunggu kepulangan suaminya. Meskipun tekanan untuk memilih suami baru semakin kuat. Penelope tetap teguh menanti kepulangan Odysseus. Hingga akhirnya, anaknya Telemachus pergi dari Iticha menuju Sparta untuk mencari informasi tentang keberadaan ayahnya. Di Sparta, Telemachus disambut dengan baik oleh raja Menelaos. Di sinilah penonton mendapatkan kisah bagaimana raja Agamemnon yang sudah pulang dengan selamat justru berakhir di tempat orang-orang mati. Kok bisa Rajanya mati? Kamu harus nonton filmya langsung ya!

Setelah perjuangannya yang rasanya mustahil untuk bisa selamat dan kenbali pulang bertemu keluarga, akhir dari film ini happy kok. Odysseus masih bisa bertahan hidup meski ditusuk berkali-kali, diterjang ombak, dipanah, dan ditombak.

Bagian paling berkesan bagiku adalah musik yang mengiringi adegan demi adegan. Musiknya bikin suasana jadi megah, wah, menegangkan, pokoknya bagus banget deh! Selain itu, sisi refleksi dari Odysseus tentang perang Troya dan sifat-sifat manusia juga menarik. Membuat aku yakin bahwa menang atau kalah, peperangan menelan banyak korban, kehilangan, menyisakan kesedihan mendalam dan rasa sakit. Pahlawan bagi pihak yang menang berate penjahat bagi pihak yang kalah. Karena kekalahan juga diiringi dengan kematian, penyiksaan dan perampasan harta benda. Mereka yang memenangkan pertarungan, mendapatkannya dengan menghancurkan peradaban, bahkan membunuh wanita dan anak-anak. Dari film ini aku juga merasa bahwa Dewa itu adil saja, karena mereka menerima doa dan memberikan balasan pada setiap perbuatan buruk manusia. Seorang pahlawan dan seorang raja tidak luput dari hukum karma dari apa yang sudah dilakukan.



Film ini tidak hanya sekadar perjalanan pulang secara fisik ke kampung halaman, tapi juga perjalanan batin Odysseus. Makna apa yang dia temukan selama perang dan perjalanan pulang. Serta interkasinya dengan Athena yang bagiku seperti menggambarkan dialog dengan Tuhan. Athena digambarkan memandunya untuk pulang, tidak hanya pulang ke rumah tapi juga pulang ke dirinya sendiri. Di jaman sekarang ini, kita sering mencari berbagai cara external untuk mendapatkan kedamaian. Padalah kedamaian berasal dari Tuhan dan ada di dalam diri. Bisa ditemukan ketika manusia pulang, bukan justru mengembara di luar sana. Perjalanan pulang ini juga tidak selalu mudah, ada saja rintangan yang membuat diri tersesat. Ada yang perjalanannya pendek ada yang lebih panjang. Setiap orang menempuhnya dengan cara yang berbeda. Tapi dengan pantang menyerah dan mendengarkan tuntunanNya, kitab isa kembali pulang ke dalam kedamaian dan kebahagiaan. Seperti ending dari film The Odyssey.