Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

 Lama banget sih gak nulis di blog sendiri. Karena harus menulis untuk orang lain dan di tempat lain. Sebelum blog ini semakin berdebu dan jamuran, mari menulis lagi.

Banyak hal yang ada di kepalaku sebenarnya, tapi justru waktu yang kurang. Ini tulisan random banget sih, kutulis pagi hari setelah menyelesaikan tulisan liputan minggu lalu.

Mari kita membahas soal tahun 2020. Banyak yang bilang, kalau 2020 skip aja deh! Skaing tidak terasa dan loh kok dah mau tahub baru aja?? Kalau kamu, bagaimana rasanya 2020? Nano-nano??

Entah berapa persen penduduk dunia yang bersyukur dengan tahun 2020. Mendapatkan banyak kebaikan di tengah suasana yang tidak pasti. Tapi for sure, aku salah satunya. Tahun ini sangat emejing buatku, karena banyak sekali kesempatan dan hal-hal baru yang bisa aku lakukan.

Dasarnya aku tidak terlalu peduli dengan seberapa buruk dunia dan kehidupan berjalan. Pokoknya ya harus selalu melakukan sesuatu, bergerak dan bekerja sama. Sembari menikmati semua yang terjadi. Sangat tidak masalah untuk tidak bahagia. Mana mungkin kan hidup akan selalu bahagia dan baik-baik saja? Semua manusia punya masalah!

Tapikan kita bisa saja memutuskan untuk memilih untuk selalu memaafkan, bersyukur dan menikmati hidup apa adanya. Hingga apapun yang terjadi di luar diri tidak terlalu berpengaruh dan tidak punya kuasa atas hidupmu.

Mengambil kesempatan di tengah kesempitan terdengar negatif? Ah, tidak juga. Aku sangat oportunis kok. Mumpung bisa ini lakukan ini, mumpung bisa itu lakukan itu. Kenapa tidak jika memang ada kesempatan?

Di penghujung tahun ini aku merasa, 2020 sama sekali tidak buruk. Aku memilih untuk memandangnya dari sudut yang baik-baik saja. Justru tahun ini adalah waktunya manusia dipaksa untuk belajar dan sadar. Dipaksa untuk kembali ke dalam diri dan melakukan evaluasi.

Mari kita berdoa untuk 2021 yang lebih baik. Berdoa untuk mereka yang meninggal karena wabah, yang masih sakit, dan yang kehilangan pekerjaan. Juga semoga kita senantiasa menjadi manusia yang diberikan kesempatan untuk menjadi penyalur kebaikan Tuhan.

Aamiin...

 Lanjutan dari tulisan sebelumnya nih, Svara SOUNDOFNATURE hari kedua semakin seru. Setelah menikmati pemandangan kabut dan matahari terbit yang indah, kami menikmati sarapan pagi. Sembari mendengarkan alunan merdu lagu jawa dari Elisa Orcarus. Suka banget sama suara merdu kakak satu ini. Mana dibelakangnya berlatar pemandangan indah bukit Nngisis lagi. Sangat nyaman di telinga dan mata.

SVARA SOUNDOFNATURE

SVARA SOUNDOFNATURE


Setelah sajian musik, peserta diajak untuk yoga bersama. Cukup membuat tubuh terasa segar dan nyaman. Sarapan sudah, olahraga pagi sudah, giliran berpetualang!

SVARA SOUNDOFNATURE

Di jalan bawah bukit sudah menunggu jeep yang akan mengantarkan kami menyusuri hutan pinus. Bagiku, setelah mencoba jalur jeep ditempat yang berbeda di Jogja. Jalur jeep di Kebun Teh Nglinggo ini yang paling seru. Ekstrim banget soalnya, dan kalau hujan tambah gila lagi. Bisa gak berbentuk manusia saking banyak lumpur yang nempel. Jalur ekstrim ditambah pemandangan indah hutan pinus, yakin deh seru banget!

SVARA SOUNDOFNATURE

Setelah melewati jalur jeep dan berfoto di dalam hutan pinus, kami belajar bagaimana cara membuat gula aren dan teh. Sebelum melihat proses produksinya, kami menyusuri kebun teh dan belajar cara memetik teh dengan benar. Semua prosesnya dijelaskan oleh Pak Suko. Beliau adalah master teh yang ada di kebun teh Nglinggo. Pak Suko menjelaskan kandungan apa yang ada di dalam teh, manfaat, kapan pemetikan dan proses penanaman yang organik. Teh di Nglinggo ditanam dengan pupuk organik dan pestisida buatan sendiri.

SVARA SOUNDOFNATURE

Setelah belajar memetik teh kami melihat pembuatan gula aren. Mencicipi aren yang masih belum jadi gula. Rasanya memang manis banget. Lalu melihat bagaimana proses pembuatan teh. Setelah dipetik teh langsung disangrai selama 15 menit. Setelah itu disangrai lagi di tungku khusus yang didesain sendiri. Tunggu itu ada dua tingkat. Tingkat pertama selama 2-3 jam, tingkat kedua 1,5 jam.

SVARA SOUNDOFNATURE

Kalau sudah kering teh dikemas plastik. Ada juga yang dijual di dalam kaleng bahkan di ekspor. Ada teh khas Nglinggo namanya juga lupa, itu harganya mencapai 8 juta dan hanya di jual ke Jerman. Tempat pemrosesan teh ini sering banget dikunjungi orang untuk belajar. Bahkan sampai dari luar negeri, seperti Korea dan China.

SVARA SOUNDOFNATURE

Nambah banget pengetahuan soal teh. Di Nglinggo juga tersedia nira dan gula semut yang bisa kamu beli. Ada kopi juga khas Nglinggo.

Kegiatan ini adalah rangkaian terakhir dari acara Svara SOUNDOFNATURE. Recomended banget sih ikutan acara ini. Kalian bisa follow IG mereka di @svara.soundofnature.

Setelah pandemi bulan Maret lalu, banyak kegiatan mandeg, terutama pariwisata. Sektor yang sangat bertolak belakang dengan protokol COVID-19 #dirumahaja dan jaga jarak. Kegiatan wisata lekat dengan keluar rumah dan bergerombol. Jadi sektor ini menjadi salah satu yang mandeg total.


Beberapa bulan berlalu, corona memang masih ada di udara. Tapi tidak dipungkiri juga bahwa pelaku wisata tidak bisa diam selamanya. Banyak yang butuh kerja untuk menghidupi anak istri. Untuk itu, pariwisata dan pertunjukkan harus menyesuaikan diri sebaik mungkin.


Svara Soundofnature
Rapid Test

Salah satu acara yang sudah terselenggara dengan sangat apik adalah Svara SOUNDOFNATURE. Aku merasa sangat beruntung untuk mengikuti acara ini. Terimakasih genpijogja.com yang sudah memberikan tiket gratis!


Hari pertama, beberapa peserta berangkat menggunakan bus besar. Meski berkali-kali ke Kulonprogo, tapi baru kali ini menggunakan bus besar. Kerasa banget jalanan yang ekstrim hingga akhirnya bus kami harus dikawal. Sesuai protokol, kami duduk satu-satu di dalam bus.


Svara Soundofnature
Naik odong-odong

Sampai di Nglinggo, kami langsung rapid test. Wah, tidak menyangka sih kalau bakalan dapat rapid test. Alhamdulillah kami semua sehat dan langsung menuju venue acara menggunakan odong-odong. Tetap ya, jaga jarak selalu diberlakukan sampai acara selesai.


Setiap peserta mendapatkan goodiebag yang isinya peralatan makan pribadi, perlengkapan mandi, masker dan handsanitizer. Sangat lengkap dan menjaga keamanan pribadi dari sharing barang-barang.


Svara Soundofnature
Goodie Bag

Aku dan temanku memilih menginap di tenda. Surprise banget dengan venue tendanya yang luar biasa apik! Serius banget, sangat love suka sekali. Setiap tenda eksklusif karena punya batasan tempat, lampu dan aliran listrik sendiri. Bahkan ada yang punya balkon sendiri. Kami yang menginap di tenda bisa leluasa melihat pemandangan indah bukit ngisis. Serasa suku indian loh, yang tinggal di lereng-lereng gunung. Gak akan terlupakan sensasi pemandangan sore dan menikmati kopi di belakang tenda sembari melihat kelip lampu kota Magelang di bawah bukit Ngisis.


Svara Soundofnature
Flying Camp


Hari pertama ini penuh dengan sajian musik mulai dari yang modern sampai lagu dengan bahasa jawa. Penampil pertama adalah suara merdu Adinda Vidya. Dan wow, kualitas soundnya bukan kaleng-kaleng. Memang beneran acara musik dengan suara sound yang indah ditelinga. Mengahbiskan sore dengan pemandangan bukit Ngisis yang indah dan alunan merdu rasanya sangat menyenangkan.


Svara Soundofnature
Suasana sore

Ada tarian doa untuk semesta juga yang magis rasanya. Karena ditengah udara dingin, sepasang manusia menari dengan diiringi langgam Jawa. Ditambah aroma dupa menyeruak menyatu dengan alunan lagu. Bagus banget deh!


Dilanjutkan dengan lagu-lagu nostalgia dari YudhyDoni di tengah dinginnya malam dan ditutup dengan penampilan Prince Husein. Jujur aku baru tahu penyanyi satu ini. Ternyata suaranya emang merdu dan bagus banget. Auto jadi suka sama lagu-lagunya.

Svara Soundofnature
Tari Doa Untuk Semesta

Selama acara hari pertama ini kami mendapatkan sajian camilan dan makanan tradisonal dan khas Kulonprogo. Makan dan minum diambilin, perlengkapan makan dicuci sendiri dan tempat cuci tangan ada banyak. Malamnya tidur dengan nyaman di tenda yang udah dilengkapi dengan kasur empuk, bantal dan sleepingbag yang hangat.


Senangnya.... Asli kangen banget aku sama suasana kayak gini.


Kelas ke-13 PIM materi lagi, tentang kolektivisme. Setelah diselingi kelas praktek seduh V60, Aeropress dan bikin Latte. Kelas materi disebut dengan kelas metafisika. Sedangkan kelas praktek adalah kelas fisika. Tapi bagiku, kelas praktek justru membuatku harus belajar banyak tentang faktor-faktor yang gak kelihatan. Menumbuhkan rasa sayang dan peka kepada kopi dan alat-alatnya. Menemukan rasa manis dan notes-notes selain pahit. Bagiku yang tidak suka minum kopi karena pahit, ini adalah sebuah perubahan besar.

Pertama kali menyeduh kopi dengan teori yang benar. Membuatku tersenyum bangga di jalan ketika pulang. Hehe … seru ternyata. Teman-teman satu angkatan juga semua semangat belajar. Benar-benar iklim yang bagus.

Kelas Praktek Seduh. Pertama kali rek ... Maaf Receh


Memang, kelas-kelas PIM ini mengaduk-aduk pola pikir. Awalnya saya juga kurang minat belajar isme-isme. Karena … rumit dan yah … males. Mending baca buku soal bunga-bunga atau tanaman herbal. Tapi setelah kelas, saya jadi tertarik belajar.

Oke balik lagi ke kelas kolektivitas. Flashback sebentar karena kelas praktek tidak ada tugas menulis.

Di awal kelas kami membahas mengenai teori evolusi Darwin. Apa hubungannya dengan kolektivitas? Saya saja sampai detik ini masih yang … hem … Apa? Gimana? Hehehe … Kami juga banyak membisu di sesi ini. Biasanya asyik berdiskusi dan melontarkan pendapat. Yang aku ingat, di era sekarang ini tidak lagi relevan kalau ingin bertahan dengan cara individualis. Memenangkan kompetisi dengan menjadi lebih unggul. Menjadi raja rimba yang mendominasi semua penghuni hutan.

Era kolektivitas, tidak ada yang lebih unggul. Setiap individu itu setara. Dalam ruang kolektif tidak ada hirarki. Dia yang lebih kuat menjadi pemimpin dan lebih unggul. Struktur yang digunakan adalah holakrasi. Semua setara dengan tugas masing-masing yang harus dihargai.

Struktur holakrasi menempatkan manusia dalam status sosial yang horizontal. Tidak vertical mulai dari pemimpin tertinggi hingga dia yang paling lemah tak punya suara. Setiap individu berhak bersuara. Seperti koperasi yang benar, one man one vote.

Memang, butuh waktu yang tidak sebentar untuk bisa memiliki sistem kehidupan yang semacam ini. Jalan panjang menuju kesetaraan dan kesejahteraan bersama. Butuh menanamkan pola pikir yang sama kepada banyak orang. Tapi, tidak masalah. Mari kita mulai dari lingkungan sendiri, bersama. Ya … bersama-sama … kita akan semakin kuat melawan.

Mereka yang menggunakan kekuasaan untuk menindas dan memperlakukan bentuk kehidupan lain dengan tidak adil. Bukan hanya manusia, hewan dan tumbuhan juga.
Setelah materi sebentar tapi berat ini, kami main games. Senangnya … dari beberapa games yang dimainkan, ada banyak hal yang bisa diambil hikmahnya. Hehe …

Games saling bercerita, helikopter, kucing dan tikus, sambung kata, lalu berbicara dengan bahasa yang tidak ada di dunia. Ada lagi satu menunjuk orang yang lupa juga namanya. Mengingatkan kita untuk mendengar, memahami orang lain, mengambil resiko, inisiatif, belajar mengungkapkan pikiran, kreatif, bekerjasama, dan jangan lupa bahagia.

Iya … jangan lupa bahagia. Di dalam perjuangan panjang ini, bisa jadi sering lelah dan jenuh. Maka, jangan lupa tertawa bersama … Juga menjadi kuat dan lebih hebat bersama.


Catatan Refleksi Kelas Ke-8 Logika Seduh dan Alat Seduh

            Semakin banyak yang saya pelajari di dunia kopi. Saya yang awalnya melabeli diri sebagai ‘bukan peminum kopi’ pada akhirnya menyadari bahwa kopi itu menarik. Kenapa awalnya tidak tertarik, karena pengetahuan saya tentang kopi hanya Robusta itu pahit dan Arabica itu manis. Yah … begitulah. Setelah belajar lebih banyak, ternyata kopi itu sangat berwarna. Untuk itu, karena saya sudah bergabung di PIM yang salah satu komoditasnya kopi, mau tidak mau ya harus mencintai kopi. Memperdalam dan memperbanyak pengetahuan tentangnya. Kan kurang kenal maka kurang sayang. Ini adalah refleksi penting bagi saya di kelas 8 ini. Babak baru memasuki dunia kopi. Halah …

Kelas Logika Seduh dan Alat Seduh

            Logika seduh dan alat seduh memiliki banyak kata dan definisi baru yang masih susah saya hafalkan dan pahami. Alat seduh kopi saja saya tidak tahu bagaimana cara membedakan dengan baik, apalagi menggunakan. Penjelasan di awal kelas adalah ajang imajinasi. Misalnya, aeropress alatnya yang mana dan bagaimana cara menggunakannya saja saya tidak paham.

            Hal-hal penting dari pembahasan kelas Logika Seduh ini adalah 4 variabel:

Variabel
Keterangan
Suhu
Panas > 80

Hangat 50-79

Dingin < 50
Grind Size
Fine

Medium

Coarse
Waktu Ekstraksi
Lebih dari 1.5 menit

1 menit

< 1 menit
Alat Seduh
Immersi (rendam) - French Press

Boil/Stepped (rebus) – Mokapot

Pour Over (tuang) – V60

Pressure (tekanan) - Aeropress

Selain variable di atas air juga bisa berpengaruh pada hasil seduhan kopi. Air berbeda mengandung mineral yang beda pula. Hal ini akan mempengaruhi cita rasa hasil seduhan. Selain air, bahan dari alat yang digunakan, misalnya plastik atau kaca hasilnya juga akan berbeda.

            Semua variable di atas harus dipahami dalam menyeduh kopi. Selain biji kopi itu sendiri. Untuk mendapatkan cita rasa kopi yang diinginkan atau yang baik maka pertama harus paham biji kopinya. Rasanya seperti apa. Maka harus cupping terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana kualitas dan rasa kopi. Setelah itu membuat metode penyeduhan sesuai dengan rasa apa yang diinginkan.

            Misalnya nih, menggunakan biji kopi Arabika yang dominan pahit. Untuk menghasilkan kopi yang tidak terlalu pahit dan masih ada manisnya harus menggunakan suhu yang rendah agar ektraksinya tidak terlalu banyak. Atau menggunakan suhu tinggi dengan grind size yang kasar. Menggunakan waktu yang cepat. Makanya agar lebih fleksible harus menhetahui logika seduh dan alatnya.

            Ketika sudah menjadi barista, tidak ada banyak waktu untuk berfikir dan menyeduh kopi. Apalagi kalau lagi ramai sekali. Jadi semua pekerjaan harus efektif dan efisien. Kalau konsumen mau kopi yang bold dan pahit ya biar cepat gunakan saja air panas dan grind size fine atau bagaimana caranya agar tidak banyak memakan waktu.

            Hari ini adalah pertama kalinya saya menyeduh kopi menggunakan V60 dan mengoperasikan grinder. Receh ya ... Hehe … Rasanya menyenangkan.



Catatan Refleksi kelas ke-7 PIM

            Kelas ke-7 adalah pertama kalinya saya belajar mengenai proses budidaya dan pasca panen tanaman kopi. Baru membaca sekilas materinya sehari sebelum dan belum pernah melihat video proses pasca panen. Jadi selama kelas saya banyak mengandalkan imajinasi. Untuk semua alur pasca panen.

            Pembahasan pertama yang kami lakukan adalah masalah budidaya. Karena basic-nya saya belajar biologi dan juga belajar pertanian alami, saya lebih paham bagian ini. Bagaimana mempersiapkan lahan, mengatur jarak tanam, memberikan naungan, hingga perawatan dan akhirnya panen. Saya punya pohon kopi di rumah, letaknya di bawah pohon sengon. Saya kira kopi itu perlu banyak sinar matahari. Eh, ternyata sudah benar dia berada di bawah naungan. Padahal asal tanam saja di kebun belakang rumah. Saya benar-benar belum pernah belajar soal kopi.

Fathur, mahasiswa Polbangtan yang share pengetahuan sama kita


            Kenapa naungan itu penting? Karena asal mulanya tanaman kopi nyaman tinggal di hutan. Dia tidak suka sinar matahari penuh. Bisa membuat tingkat produktifitasnya rendah dan buahnya kurang berkualitas. Kecil dan cepat matang atau malah terbakar sinar matahari. Ini bisa dipahami, karena semua tumbuhan akan mempercepat proses pembuahan kalau tercekam. Sinar matahari yang terlalu banyak membuat tanaman kopi terancam dan mempercepat pemasakan buah. Semua tanaman tugas akhirnya adalah untuk berbuah dan meneruskan keturunan. Ketika merasa tercekam dan merasa bisa mati sewaktu-waktu mereka dengan segera berbunga dan berbuah agar bijinya bisa tumbuh di kemudian hari.

            Tanaman kopi perkebunan juga membutuhkan perawatan seperti pemupukan, penyiangan dan pemangkasan. Terutama yang ditanam dengan sistem monokultur. Apalagi kalau terkena hama, harus disemprot menggunakan pestisida baik organic mapun anorganik. Kami juga belajar mengenal silsilah kopi. Baru tahu ternyata Arabica itu adalah mutasi alami dari Robusta. Aku kira keduanya memang berasal dari spesies yang berbeda. Waw… sangat mind blowing … hehehe …

            Kami juga membuat timeline penanaman. Kapan harus menanam, perawatan hingga panen. Timeline ini penting sekali untuk menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan membutuhkan perlengkapan apa. Supaya tidak ada yang terlewat dan semuanya tepat waktu. Kopi memiliki masa tanam dan cara bubidaya yang berbeda tergantung dengan jenis dan kebutuhan di penanam.

            Urusan budidaya selesai, masuk ke pengolahan pasca panen. Bagian yang masih harus saya ulik kembali secara mandiri. Agar bisa lebih mehami kopi. Kami berdiskusi dan mendapatkan materi mengenai proses basah dan kering. Proses basah dengan bantuan air dibagi menjadi dua Full Wash dan Semi Wash. Proses kering dibagi juga menjadi dua bagian ada natural dan honey. Pada semua prosesnya sama-sama membutuhkan fermentasi. Hanya sama di bagian wet process menggunakan bantuan air sedangkan dry process ya dikeringkan begitu saja.

            Perbedaan hasil yang mencolok adalah pada hasil rasa kopinya. Wet process menghasilkan kopi yang clean dan stabil. Prosesnya juga lebih rumit. Sampai saya menulis ini juga masih rancu kapan perambangan, mucilage, pembilasan dan sebagainya. Antara semi dan full wash masih suka terbalik-balik. Kalau natural dan honey prosesnya lebih mudah saya mengerti. Wong tinggal dikupas dan dikeringkan atau langsung dikeringkan. Cara ini menghasilkan kopi yang lebih kaya flavournya. Saya langsung suka dengan kopi natural process. Wangi dengan rasa nano-nano, sepertinya saya langsung jadi fans natural process. Sampai kos baru sadar, berarti kopi yang di kebun belakang pakai natutal process dong? Langusung dikeringkan lalu ditumbuk setelah kering. 

Pantes enak …. Hiyaaaa … langsung bangga. Wkwkwkw… setidaknya secara gak sadar menerapkan salah satu metode proses pasca panen.


Catatan Refleksi kelas ke-6 PIM 5
Sensory dan Cupping Kopi



            Kelas kali ini kami belajar sensory rasa. Sebelumnya ada pengantar materi untuk membedakan apa perbedaan antara aroma, taste dan falvour. Kenapa harus belajar sensory? Tentu saja karena yang akan kita gunakan adalah komoditas makanan, spesifiknya kopi. Di dalam penyajian kopi ada yang namanya cupping. Merupakan metode untuk menilai kualitas kopi sesuai dengan standar.

            Kemampuan sensory tidak terbatas hanya karena memiliki bakat sensory yang peka saja. Tapi juga harus ada perbedaharaan rasa pada orangnya. Kita tidak akan bisa mengatakan itu rasa apel ketika belum pernah memakan apel. Karena rasa dan aroma tidak bisa digambarkan tanpa menggunakan contoh yang spesifik. Manis seperti apa? Asam seperti apa? Semua diasosasikan dengan rasa dari makanan atau benda yang spesifik.



Basic Sensory


            Dari lima rasa yang biasa kita tahu, seperti manis, asam, asin, pedas, umami,bisa dibedah menjadi banyak sekali rasa yang lebih spesifik. Mislanya sharp, soary, acity dan lain sebagainya. Untuk itu memplajari tentang rasa dan aroma juga melatih kepekaan lidah itu penting sekali.

            Setalh berlatih sensory kamu melakukan cupping dengan dua tipe bean. Ada robusta dan Arabica yang dibagi menjadi 4 cup. Lalu belajar juga untuk mengisi table penilaian cupping yang cukup rumit. Ya, bagi saya ini baru pertama kalinya melihat table cupping. Juga tidak punya pengetahuan yang baik mengenai kopi. Jadi mau menilai bagaimana juga membingungkan.

Basic Cupping

            Ada beberapa poin yang saya catat:
Roasting level medium aroma lebih banyak terkespos
Cupping menggunakan metode tubruk, jadi roasting levelnya medium juga termasuk grind size
Untuk megimbangi suhu. Agar mengasilkan seduhan yang balance.
Kenapa kopinya dibuat menyentuh bibir cup? Supaya mudah dihirup aromanya.
Kenapa ditunggu 3-5 menit baru dicicipi? Supaya dingin, hehe …
Kenapa nilai di bawah angka 6 tidak ditampilkan? Untuk menghargai petani yang menanam. Masak dikasih nilai jelek, kan rasanya tidak etis.
Break adalah proses membuka ampas
Dry aroma sebelum diseduh
 Balance: gabungan rasanya seimbang apa gak?
Uniformity: keseragaman, stabilitas seduhan
Clean cup: apakah ada rasa yang beda? Ada yang aneh pada cangkir tertentu?
Intensity: berapa cup yang mengandung rasa yang aneh
Tint: aroma

Saya benar-benar harus belajar lebih banyak soal materi ini. Apalagi ngisi borang penilaian cupping. Pas nulis ini aja udah pada lupa tadi bahas apaan. Hehehe …

Catatan Refleksi Kelas PIM ke-5

Kelas ke 5 ini mulai masuk ke ranah bisnis. Setiap bisnis harus memiliki metode yang dijalankan demi mendapatka profit. Mau bisnis bentuk apapun itu, koperasi yang punya unit bisnis pengelolanya juga butuh tahu. Pada sesi kali ini ada perbedaan jelas diantara beberapa hal berkikut ini.

Program
Branding
Value
Why
Proyek
Marketing
Strategi
How
Aktivitas
Selling
Taktik
What

Apa yang membedakan setiap barisnya adalah dimensi waktu. Program tidak terbatas waktu. Sedangkan proyek adalah sesuatu yang dilaksanakan dalam waktu tertentu dan di dalamnya ada aktivitas yang lebi spesifik.


Mas Bima, membagi pengetahuan Magister Manajemennya pada kami


Selanjutnya masalah branding. Dalam era bisnis saat ini branding sangatlah penting. Ingin dikenal sebagai atau seperti apa, branding harus sesuai dengan value yang ingin disampaikan pemilik bisnis. Setelah mengerti brandingnya apa, bisa membuat strategi marketing dengan analisis pasar yang tepat. Ada juga selling yang biasanya dilakukan oleh sales langsung kepada konsumen.

Soal strategi dan taktik juga dibedakan oleh waktu. Untuk memudahkan bagaimana memikirkan tiga aspek tersebut dibantu dengan pertanyaan why, how dan what. Memang kenapa sih konsumen harus membeli produk tersebut? Bagaimana cara memasarkan produk tersebut? Apa sih produknya? Kira-kira seperti itu.

Di dalam menjalankan bisnis ada yang namanya gimmick. Membalut value yang sebenarnya baik hanya untuk kepentingan tertentu. Value sendiri sebenarnya adalah nilai-nilai yang baik untuk kemanusiaan dan manusia. Tapi ketika hanya digunakan untuk kepentingan pribadi atau tertentu, maka hanya akan menjadi gimmick. Hal ini dilakukan banyak perusahaan besar maupun rintisan agar produk dan perusahaannya terlihat baik. Padahal ya hanya program marketing saja untuk meningkatkan penjualan dan mendapatkan profit.

            Dalam proses marketing, untuk melihat selera pasar bisa digunakan metode 4P (product, price, place, promotion) dan STP (segmenting, tareting, posisioning). Semua metode ini adalah untuk membedah produk dan pasar. Juga untuk mengimplementasikan dan menjawab pertanyaan why, how, dan what. Proses branding hingga selling ini sifatnya dalah terus menerus demi keberhasilan bisnis dan bisa bersaing dengan competitor.

           Branding hingga selling juga dibedakan berdasar waktunya. Branding jangka waktunya sangat lama, marketing bisalebih cepat berubah dan dinamis. Sedangkan selling atau penjualan langsung bisa cepat mendapatkan hasil dan di evaluasi setelah kegiatannya selesai.

            Apa sih perbedaan branding dan posisioning? Branding adalah apa yang melekat pada produk. Lebih fokus pada nilai-nilai produknya. Sedangkan posisisoning adalah tangapan masyarakat dan bagaimana produk itu dimaknai oleh masyarakat.

            Selanjutnya kami juga membahas mengenai metode bertindak. Ada tiga hal:
1.      Reguler
2.      Alternative
3.      Emergency

Semua orang akan menginginkan keadaan ideal tercapai. Tapi pada kenyataannya, di lapangan, akan ada banyak hal yang terjadi. Permasalahan, hambatan dan keterbatasan yang menyebabkan keadaan idela sulit tercapai. Untuk itu setiap orang harus paham metode bertindak agar lebih fleksible serta dinamis. Bahkan bukan untuk bisnis saja, saya rasa tiga hal ini adalah dasar menjalani kehidupan juga. Terlalu idealis yang tidak sesuai dengan kenyataan juga bisa negative. Hidup itu juga butuh realistis. Melakukan apa saja sesuai dengan situasi dan kondisi, terbaik yang bisa dilakukan.

Hidup fleksibel dan dinamis ini bisa membuat seseorang tidak mudah stress dan depersi menghadapi kenyataan. Apalagi di dunia bisnis yang tidak hanya butuh energi banyak, tapi juga keberanian dan inovasi.


 Catatan Kelas Ke-4 PIM Nalar Hidup Petani 


            Bagi saya ini adalah sesi paling emosional dari tiga sesi sebelumnya. Karena banyak kasus yang meresahkan berkaitan dengan rantai pengetahuan bangsa ini yang terputus. Karena banyak sebab. Perbedaan bahasa masa klasik dan modern, masuknya kebudayaan baru dari negara lain, dan beragam peristiwa sejarah yang menimpa bangsa ini. Naskah-naskah kuno yang kurang diminati, budaya yang dianggap tida lagi relevan, hingga hilangnya catatan baik mu adan sejarah. 


Petani Kopi (Foto Fajar Sumatera)


           Membuat kita semakin mudah terjebak euforia dengan modernitas dan kebaikan-kebaikan metode dari luar. Padahal bangsa ini telah menjadi bangsa yang besar sejak masa lampau. Di bidang pertanian masyarakat klasik punya kearifan dan pengetahuan sendiri. Itulah yang seharusnya dikembangkan agar lebih sesuai dengan jaman.

Pertama kita membahas mengenai teori diskursus dari Michel Foucault, seorang filsuf Prancis. Ada dua titik yang akan terus berhubungan, antara titik Ginealogi dan Arkeologi. Saya sendiri belum begitu memahami teori ini. Jadi masih perlu belajar lagi. Teori Foucault ini membahas mengenai pengetahuan dan bahwa pengetahuan bisa menjadi kekuasaan.

Selanjutnya, kami mencoba menganalisis neraca perdagangan. Jika ditelisik surplusnya hanya bidang perkebunan. Sedangkan di Indonesia perkebunan identik dengan sawit dan bahan ekspor. Justru produk pangan malah defisit. Padahal masalah pangan sangat penting karena menyangkut perut. Orang tidak bisa produktif, berfikir dan memiliki waktu untuk menikmati hidup jika setiap hari perutnya kosong. Maksudnya, jika masalah pangan saja belum selesai, bgaimana negara ini bisa maju?

            Dari neraca perdagangan bidang pertanian itu juga ada peternakan. Mendiskusikan bentuk perusahaan plasma dan inti plasma. Perusahaan yang tampaknya baik memberikan edukasi keada peternak atau petani. Tapi nyatanya semua ada pada kendali perusahaan tersebut. Petani dan peternak itu tidak tahu nilai produknya, padahal di bahasan kelas ke 3 Knowledge Manajemen, disebutkan bahwa itu sangat penting. 

          Model kerjasama PT seperti ini, selain susu ada ayam dan tanaman export lainnya. Bagi saya seperti sistem tanam paksa yang sangat halus. Petani tidak merasa dipaksa memang karena mereka mendapatkan keuntungan. Tapi bayangkan, produknya ditentukan, kualitasnya ditentukan, harganya ditentukan. Harga beli juga termasuk rendah jika dibandingkan dengan keuntungan PT. Nah, kan mirip tanam paksa tapi sudah modern. Tidak ada yang merasa dipaksa, dirugikan dan dikendalikan.

            Selanjutnya kami membahas mengenai penggunaan kalender, Pranoto Mongso kalau untuk pertanian. Sejalan dengan paragraf pertama tulisan ini. Kita kehilangan banyak ilmu pengetahuan. Kehilangan banyak wisdom yang telah ditemukan leluhur. Bagaimana bisa menjadi bangsa yang maju dan luhur kalau pengetahuan leluhurnya dilupakan? Bisa jadi malah jad bangsa yang modern kelihatannya tapi kehilangan jatidiri Ya itu, mudah terkena euphoria budaya negara lain yang dipuja.

            Secara pribadi saya sangat berterimakasih kepada ahli filologi yang peduli pada pengetahuan masa lampau dan menerjemahkan untuk masyarakat modern. Di Jogjakarta sendiri, Keraton telah bekerjasama dengan universitas untuk mempelajari naskah kuno yang tersisa. Berusaha meminta kembali naskah yang dibawa ke Inggris karena Geger Sepehi dan mempelajarinya. Kalau ada yang bilang back to nature, bagiku ya bukan hanya kembali ke lam.

           Orang jaman dahulu sudah hidup dekat dengan alam. Petani jaman dulu mengahargai alam. Ya, kembali mempelajari pengetahuan lampau yang terpinggirkan dan hilang. Lalu mengembangkannya agar selalu sesuai dengan perkembangan jaman.