Tulisan Terbaru

Tetaplah Lapar Tetaplah Bodoh

Ringkasan dari sambutan Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Pixar Animation
Diambil dari buku Kubik Leadership karangan Farid Poniman, Indrawan Nugroho, Jamil Azzaini yang aku pinjam dari perpustakaan UNS dengan kartu perpus pinjaman dari adek tingkat ^^ (Serba pinjaman)


Oke,, mulai fokus

Saya diberi kehormatan untuk bersama kalian di hari pertama di salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus kuliah. Bahkan, sesungguhnya inilah saat terdekat saya terlibat dalam upacara wisuda. Hari ini saya ingin berbagi tiga cerita dalam kehidupan saya.

Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik. Saya putus kuliah dari Reed College 6 bulan pertama, tapi saya tetap ada di kampus selama 18 bulan berikutnya sebelum saya benar-benar berhenti.Saat itu saya memutuskan untuk mengambil kelas kaligrafi. Saya belajar tentang tulisan serif dan sanserif, tentang meragamkan jarak antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat para tipografis menjadi hebat. Tidak ada satupun tentang yang saya pelajari itu sepertinya akan bermanfaat dalam kehidupan saya.

Namun, sepuluh tahun kemudian, ketika kami merancang komputer Macintosh pertama, semuanya saya ingat kembali. Mac menjadi komputer pertama dengan tipografi yang indah. Andai saya tidak pernah putus kuliah dan kemudian ikut kelas kaligrafi, Mac tidak akan punya beragam tulisan atau huruf yang berjarak secara proporsional. Dan karena Windows hanya meniru Mac, sepertinya tidak ada PC yang akan memiliki tipografi indah.

Tentu saja, tidak mungkin menghubungkan titik-ttik itu ke masa depan saat saya masih di kampus. Tapi terlihat sangat-sangat jelasjika ditinjau sepuluh tahun kemudian. Jadi, kita harus percaya bahwa titik-titik itu suatu saat akan terhubung di masa mendatang. kita harus percaya pada sesuatu- insting, takdir, kehidupan... apalah. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakan saya, bahkantelah membuat semua perubahan dalam kehidupan saya.

Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan. Saya merasa beruntung karena saya menemukan apa yang sangat ingin saya lakukan dalam hidup dalam usia yang sangat muda. Woz dan saya memulai Apple di garasai orangtua saya saat saya berumur 20 tahun. Kami bekerja dengan keras, dan dalam 10 tahun Apple telah berkembang dari hanya kami berdua di garasi menjadi sebuah perusahaan senilai 2 miliar dolar dengan lebih dari 4.000 pegawai. Kami baru saja meluncurkan karya terbaik kami- Macintosh- setahun yang lalu, dan saya baru berusia 30. Kemudian saya dipecat.

Apa yang menjadi fokus kehidupan saya telah hilang dan itu sangat menyakitkan. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan selama beberapa bulan. Tetapi secara perlahan ada sesuatu yang mulai terpikirkan. Saya telah ditolak, namun saya masih mencintai apa yang saya kerjakan. Jadi, saya memutuskan untuk memulai kembali. Saya tidak sadar saat itu, tapi ternyata dipecat dari Apple merupakan hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya. Beban berat menjadi sukses digantikan perasaan enteng menjadi orang baru lagi. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki periode paling kreatif dalam kehidupan saya.

Selama lima tahun berikutnya, saya memulai sebuah perusahaan bernama NeXT dan sebuah perusahaan lain bernama Pixar, yang kini menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Dalam salah satu peristiwa yang luar biasa, Apple membeli NeXT, saya kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjad jantung kehidupan Apple.

Dipecat dari Apple memang sebuah pil pahit buat saya, namun saya pikir memang ini diperlukan. Terkadang kehidupan memukul kita dengan sangat keras. Jangan hilang kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus bertahan adalah saya mencintai apa yang saya lakukan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai, dan satu-satunya cara untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa adalah mencintai apa yang kalian lakukan.

Cerita ketiga adalah mengenai kematian. Mengingat bahwa saya akan mati suatu saat nanti adalah hal yang paling penting yang saya temukan untuk menilong saya membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup. Sekitar setahunyang lalu saya didiagnosis menderi kanker yang tidak dapat disembuhkan dan harapan hidup saya 6 bulan lagi. Tapi kemudian saya menjalani operasi dan baik-baik saja hingga saat ini. Itu adalah saat terdekat saya menghadapi kematian dan saya berharap hanya itulah hingga beberapa dekade mendatang.

Karena sudah melalui tahapan ini, saya bisa lebih yakin mengatakan bahwa kematianadalah sebuah konsep yang berguna dan murni intelektual. Kematian adalah agen perubahan kehidupan. Ia memberikan jalan untuk yang baru denganmenyingkirkan yang lama. Kali ini yang baru adalah kalian, namun suatu hari tidak lama dari sekarang kalian akan menajddi tua dan tersingkirkan. Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan dengan hidup dalam kehidupan orang lain. Jangan terperangkap oleh dogma. Jangan biarkan opini orang lain mengaburkan suara hati kalian. Dan yang penting, milikilah keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisimu.

Ketika saya masih muda, ada terbitan luar biasa bernama Katalog Seluruh Dunia, seperti Google dalam bentuk buku 35 tahun sebelum Google muncul. Buku itu dilengkapi alat bantu yang keren dan catatan yang bagus. Pada halaman belakang edisi terakhir mereka, ada sebuah foto mengenai jalan perkampungan waktu dini hari, jalan yang mungkin akan kalian ikuti jika suka berpetualang. Dibawahnya ada kata-kata "Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh". Itu adalah pesan perpisahan mereka sebelum pergi. Dan sekarang kalian para lulusan baru saya mengharapkan itu dari kalian.

Tetaplah Lapar. Tetaplah Bodoh

Orang lapar adalah orang yang paling mampu mensyukuri arti sesuap nasi. Orang lapar tahan banting. Orang lapar akan berusaha dengan segenap kemampuannya untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

Orang bodoh tidak punya prasangka, terbuka pada hal baru dan tidak akan pernah berhenti belajar.

No comments