Sampai Jumpa Untukmu dan Sepotong Cerita Manis Kehadiranmu


Aku melangkah perlahan, dengan perasaan sendu. Sangat berlawanan dengan cerahnya matahari di langit sana. Maaf matahari, perasaanku hari ini tidak sinkron dengan auramu. Mataku menyapu pemandangan sekitar, sempurna untuk sebuah moment perpisahan. Masih jam 14.00 siang, satu jam lagi dia akan datang. Membayangkan langkah kakinya berbarengan dengan sore yang perlahan datang. Duh.. senja macam apa yang akan terjadi nanti? Membayangkankannya saja, pilu hati ini. Duh… 

Berkali-kali aku menghela nafas.

Aku menemukan sebuah kursi taman, bahannya dari kayu berwarna coklat tua dengan ukiran pada sandaran tangan. Agak usang tapi masih tegar terpasang di atas tanah berbatu. Kursi taman yang cukup untuk duduk berdua. Di bawah pohon rindang lagi. Apa ini sinetron? Yah.. aku mencoba menghibur diri.

Jantungku berdebar. Sedikit berat rasanya. Bukan beban hidup, beban perasaan.
Aku duduk, mencoba membuat diri sendiri tenang. Bernafas.. Bernafas perlahan… “Nanti jangan menangis ya diriku yang sedang melow-melownya..” pesan yang sangat penting untuk diriku sendiri. Mari kita menikmati pemandangan. Danau yang tenang dengan riak air halus dari barat ke timur. Sekelilngnya pepohonan besar dengan beberapa batuan yang yang besar juga. Beberapa warung berjajar di tepi danau. Ada tulisan besar-besar, menawarkan es kelapa, kopi, bajigur, cireng, gorengan dan makanan berat. Katanya ini batu cinta, tempat bertemunya sang putri dengan pujaan hatinya. Lalu mereka hidup bahagia. Sungguh dongeng, beda sekali realita kisah cintaku ini. Tempat ini sepi, mungkin karena tidak berbaregan dengan hari libur. Aku menatap air, tenang seperti menghipnotis.



“””””””””””
Akhirnya setelah perjalanan selama satu jam aku sampai di Café yang letaknya persis sebelum Tugu Jogja. Sangat tidak sabar. Di dalam sudah banyak teman yang datang. Reuni pertama kami setelah sekian lama hanya bertemu melalui media sosial. Aku sedang menikmati makananku, ketika kau tiba-tiba masuk. Sungguh.. langsung menarik perhatianku. Setelan celana panjang coklat, hem kotak-kotak terbuka dengan kaos di dalamnya. Semua warnanya senada, belakangan aku paham, kamu stylish dan rambut gondrong hampir sebahu. Aku sangat terkejut ketika kau bilang jurusan kedokteran. Wah.. tahu lah ya dengan penampilan seperti itu jurusan apa yang terlintas dipikiranku.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’
Aku tersenyum sendiri di kursi taman. Hari semakin sore dan hembusan angin mulai terasa dingin. Kotanya orang Sunda ini memang punya cuaca yang lebih segar dibanding kota besar lainnya. Kau belum datang.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’
Kenapa aku mengagumimu? Makhluk pendiam yang misterius. Aku melihat keteguhan dalam setiap sikap dan prinsip hidupmu. Kau sama sekali tidak takut untuk menjadi berbeda, jengah dengan sikap-sikap formalitas manusia. Satu pertayaan fatal dan bodoh yang amat kusesali pernah terlontar padamu adalah “Kau suka main ke mana?”. Kau diam waktu itu. Betapa bodohnya.. kau tidak akan keluar rumah untuk sekadar bermain atau bersosialisasi. Kau tak suka matahari dan manusia. KKN saja kau anggap kegiatan tidak berguna, apalagi acara formalitas tempat kita bertemu itu. Gak guna juga katamu, hanya datang karena kewajiban. Duh..

Prinsipmu, itulah yang mengagumkan. Unik dan sangat langka. Orang sepertimu, yang tidak peduli dengan prinsip-prinsip umum jika memang tidak sesuai dengan prinsipmu. Terlepas dari penampilan fisikmu yang memang oke. Kau juga punya aura yang hangat dan dalam. Aku tebak, meski pendiam kau adalah pribadi manis yang baik sekali.

‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
“Hai.” suara laki-laki membuyarkan lamunanku. Suara lembut dengan nada rendah. Lucu sekali logatmu itu.

“Hai.” aku gugup luar biasa.

Kau duduk, kita diam.

Entah sudah berapa menit. “Kapan kamu berangkat?” kataku setelah berfikir keras mau bilang apa.

“Minggu depan.” jawabmu singkat.

Gusti.. kau itu tidak pandai biacara atau memang tidak suka basa basi sih? Pikirku dalam hati.

“Semoga lancar studinya.” ternyata ucapan yang keluar dari mulutku tak kalah singkat.
Bagaimana ini? Jika kita sama-sama makhluk dengan ucapan singkat tapi gemuruh dalam pikiran juga adalah sebuah kenyataan. Aku harus bagaimana? Memandang air saja dari tadi kerjaanku. Tolong katakan sesuatu. Tentang semua ini.

“Terimakasih untuk perasaanmu padaku, dengan pertemuan singkat kita, mungkin saja itu hanya euforia. Belum tentu yang sesungguhnya.” katamu sambil memandang air juga.

Aku diam. Mencerna kalimatmu.



‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
Januari 2019, ketika cerita ini kutulis. Aku kembali memikirkan kalimatmu.
Mungkin memang benar, waktu itu aku kira aku jatuh cinta padamu. Atau aku ini emang tipe yang mudah suka dengan manusia-manisa aneh. Mereka semacam punya magnet yang membuatku kepo. Tapi sampai sekarang aku tidak paham, seperti apa cinta yang sebenarnya itu? Aku termasuk suka sekali kalau denganmu.

Aku sedih, sebentar, ketika kau pergi. Kau yang membuatku bersemangat memakai rok dan pergi kajian, kau yang membuatku menghapus file musik dalam leptop, bahkan aku mencoba mendaftar menjadi santri pondok. Gila.

Setelah itu aku baik-baik saja. Tidak merasa patah hati dan kesedihan berkepanjangan. Tapi aku tetap mengagumimu, seperti beberapa orang yang kukagumi karena kepribadian mereka. Aku tidak peduli apakah akan bersamamu atau tidak. Pokoknya aku tetap mengagumimu saja. Apa ini ternyata bukan cinta? Atau kedatanganmu adalah jalan Tuhan untuk mengajariku dan merubahku menjadi lebih baik, lebih taat.

Begitu.. kuanggap begitu saja. Pertemuan denganmu tetaplah momen spesial. Sosokmu tetap spesial. Agaknya kau ada di benua yang jauh, jauh sekali. Sukses menjadi peneliti, impianmu. Semoga bisa beneran ke Mars, impian lainmu untuk jauh dari manusia. Kalau ketemu nanti, aku mau tanya, menurutmu cinta itu apa? Karena aku sudah pernah tanya, kenapa kau tidak suka manusia.

Tuhan.. bolehkah aku berdoa untuk bertemu dengannya lagi? Seperti ketika Engkau kabulkan waktu itu. Pertemuan terakhir itu.

6 komentar: