Menilik album kehidupan menjadi tema Seninan kali ini. Sebagai pengantar untuk album baru 2020. Kami diajak untuk kembali menilik masa lalu, kembali ke masa kini dan merencanakan masa depan lewat jendela gambar-gambar.

Metode yang digunakan namanya Visual Art Therapy Points of You dipandu oleh Ibu Hendri Wijayatsih. Ini pertama kalinya bagiku pakai metode ini.

Seninan Rumah Maguwo (Instagram @rumahmaguwo


 Pertama kita duduk melingkari kartu-kartu Points of You  yang di tata di tengah ruangan. Ada tiga macam kartu yang ditata. Kartu wajah hitam putih, kartu berawarna, dan kartu berwarna yang ada tulisannya.

Bu Hendri membagikan secarik kertas berisi tiga kolom. Kita diminta untuk mengisikan satu fokus saja sebagai judul. Misalnya fokus studi, pekerjaan, asmara, dan lain sebagainya. Bebas sesuka hati.

Di kolom pertama isinya mengenai refleksi apa saja yang sudah dialami atau terjadi di masa lalu. Kolom kedua isinya apa yang dirasakan atau tentang keadaan saat ini. Untuk membantu proses refleksi kita diminta mengambil tiga kartu Points of You untuk kolom pertama dan kedua.



Kolom ketiga isinya apa yang akan dilakukan ke depannya. Tapi cara ambil kartunya beda. Setiap orang mengambil satu kartu lalu diberikan secara acak kepada peserta lain. Kalau masih belum puas dengan kartu yang dikasih sama temen, boleh ambil satu kartu lagi.

Terakhir, Bu Hendri membagikan satu kartu Points of You yang isinya pertanyaan.

Ini adalah kartu Points of You yang aku ambil.


Fokus yang aku pilih adalah tentang perjalanan yang sedari awal aku niatkan. Aku prediksi juga kemungkinan akibat yang akan timbul. Perjalanan yang membawa banyak perubahan.

Tiga kartu pertama ada rangkuman masa lalu 2019, tiga kartu di bawahnya gambaran saat ini dan dua kartu berikutnya adalah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Surprise banget dikasih teman, random, dapatnya kartu bertuliskan ‘bersalah’.

Iya aku memang tidak menyesali semua yang telah terjadi dalam perjalanan 2019. Aku tahu resiko dan sebab akibatnya. Hanya saja, jauh di dalam lubuk hati (heya…) aku juga merasa bersalah. Demi mendapatkan apa yang aku inginkan ada hal-hal yang harus dilepaskan, waktu yang aku gunakan untuk mencari membuatku melewatkan kesempatan. Itu harus mulai kubayar tahun 2020 ini. Rasa bersalah yang coba aku pendam eh malah terpampang nyata lewat kartu.

Berat sekali sesi ini ya Tuhan.. hehe..

Kartu kedua yang kuambil tulisannya ‘kreativitas’. Aku sering banget dapet kartu model begini. Memang yang harus aku kembangkan adalah membuat karya dengan kreativitas. Melahirkan apa-apa yang belum sempat dilanjutkan.

Astaga, cocok benar ini kartu-kartunya.

Lalu kartu terakhir bikin lebih surprise lagi. 

“Apa yang aku harapkan dari diriku?”

Pas banget malam sebelumnya aku ngobrol sama diri sendiri sebelum tidur. Bertanya pada diriku:

“Sebenarnya Wardha itu kayak apa sih orangnya?”

“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”

“Apa yang ingin kamu raih, diriku?”

Dan pertanyaan-pertanyaan refleksi lainnya. Rasanya pertanyaan pas seninan jadi pamungkas.
Bagiku hidup sangat dinamis. Sekarang begini, la kalau besok Tuhan minta aku pindah jalur kan juga belum tahu. Ya harus Siap Tuhan! Dengan nego-nego lah dikit kalau susah… hehe…

Kartu favoritku

Sesi terakhir adalah membuat poin-poin apa yang akan dilakukan dalam waktu 24 jam, satu minggu dan satu bulan.

Aku suka Visual Art Therapy Points of You ini, selain menggambar ternyata main foto asyik juga. Ya sama sih kayak kartu Tarot. Gambar-gambar itu, secara tidak kebetulan membentuk cerita. Bahkan mengulik bagian terdalam dari pikiran dan perasaan. Menguak memori yang disimpan dan disembunyikan.

Penasaran kan kok bisa? Kok bisa? Nanti ya kita bahas di lain sesi (kalau ingat)



Habis nonton film Imperfect kemaren terus dikasih stiker sama eSJe bertuliskan “Perempuan Merdeka” jadi pengen sharing cerita. Mozaik yang masih nempel diingatanku sampek sekarang. Tapi bersyukur bukan jadi memori yang membebani. Jadi cerita unik masa lalu. Berkontribusi dalam membentuk aku yang sekarang.

Kamu juga bisa, jadi wanita kuat.

Dulu aku sempat jadi korban bully dan ejekan teman-teman.
Hiyaaaa… dramatis kan?

Pas masih SD dan SMP, masih ingat banget aku sampek sekarang. Gak cuma di sekolah bahkan di rumah juga. Kurang ajar benar anak-anak kucrit itu.

Pernah diganggu anak nakal di sekolah, anak cowok. Tahu lah ya gimana ngeselinnya diisengin. Hingga suatu hari dia, yang badannya lebih gede dan tinggi dari aku, dateng pas istirahat. Aku lagi main sama temen cewek di samping sekolah.

Waktu itu ada kayu berduri gitu kan, samping sekolah kebun. Kuambil, pura-pura aja mau kupukul. Aslinya sih aku gak suka berantem dan konfrontasi. Pas ketemu lagi, dia ngomong sesuatu, aku cuma menatap dan diem aja. Sejak itu aku gak ada ingatan lagi soal gangguan dia.

Terus bulan Ramadhan, aku juga frustasi sama anak cowok yang suka gangguin di masjid dan coret-coret buku Ramadhan.

Jadi ceritanya, kan tiap bulan Ramadhan tuh tugas wajibnya adalah minta tanda tangan di buku Ramadhan. Nah, tiap habis tarawih dan sholat subuh bukuku pasti di coret-coret. Dengan beragam kalimat ucapan salam dan entah apalagi aku sampek lupa. Ini bikin aku frustasi juga sampek gak berani ke masjid.

Masih ingat banget juga sempat sembunyi di rumah bude. Jadi masjid samping rumahku punya budhe sendiri. Dicariin sama anak-anak cowok bandel itu habis tarawih. Takut aku waktu itu. Sungguh. Sampek buku Ramadhanku penuh tip ex buat hapus tulisannya. Dapet surat cinta segala dan beragam kejadian menyebalkan lainnya.





Sejak kejadian waktu SD itu, aku mikir. Gak bisa nih diam saja. Aku harus melawan! Jadi wanita kuat! Hehe… Kalau mau melawan harus kuat donk. Jaman SD aku masih anak pendiam (ahem), takut gelapnya malam, belum kuat mental menghadapi anak nakal deh. Hehe..

Maka aku harus kuat secara fisik dan mental. Anak-anak yang gangguin aku pas Ramadhan itu kumarahin, kalau berani dekat-dekat kupukul, kulempar petasan. Entahlah apa lagi yang kulakukan saat itu untuk melawan.

Petasan adalah barang wajib punya pas Ramadhan btw. Ada kebiasaan habis subuh anak-anak yang pergi ke masjid itu gak pulang tapi juga gak ngaji. Jalan-jalan pagi donk sampek 2 Km keliling kampung. Bawaan wajibnya petasan sama korek api. Hiyehehe…

Sejak SD aku juga pakai strategi berteman dengan anak preman sekolah. Yah, bukan berteman baik sih, hanya menjaga hubungan baik. Ini kuterapkan sampek SMP. Anak-anak nakal itu jadinya gak pernah macem-macem dan minta uang sama aku. Ketika berinteraksi sama mereka pokoknya, sekali lagi aku gak boleh kelihatan lemah. Harus menunjukkan kalau kita setara dan gak perlu takut. Jadi wanita kuat dan mandiri.

Meski dalam hati ya ada takutnya tapi berhadapan dengan orang-orang yang sok dan menyebalkan itu harus punya bargaining power. Hem, gimana ya nyebutnya, punya hawa keberadaan yang kuat gitu deh. Jadi wanita kuat gitu. Hehe…

Nah, kayak gini harus dilatih. Fisik harus kuat mental juga dilatih. Kejadian yang menimpaku masih standar lah ya gak parah. Temen-temen nakal di lingkunganku juga gak terlalu kuat atau jahat. Lebih susah lagi pastinya jaman sekarang yang anak SD SMP aja bisa brutal.

Yah, mau gimanapun keadaannya, jadi kuat fisik dan mental itu penting. Carilah cara latihan dan metode yang sesuai.

Aku sendiri belajar self defense sederhana. Pernah belajar beladiri dulu, ya meski udah lupa sekarang tapi masih ingat lah cara nendang atau mukul orang dan mana titik lemahnya, belajar pakai senjata, koleksi menyimpan benda tajam, olahraga, dan menerapkan pola hidup sehat hingga sekarang. Jadi wanita kuat wanita hebat. (Halah.. malah slogan)

Jadilah wanita kuat bukan jahat.

Soal tinggi badan. Jangan dikira tinggi itu bebas bully. Big NO! Jadi tinggi di kelas itu gak luput dari ejekan dan penolakan.

Tapi yah, bodo amat. Sejak kecil aku udah belajar jalan lurus ala model. Aku dulu gak tahu dapat inspirasi darimana. Nonton runway juga gak pernah, pengen jadi model juga gak sih. Cuma asyik aja bisa jalan lurus ala wanita-wanita cantik. Padahal tontonanku Mak Lampir sama kartun. Buku bacaan Bobo sama Lima Sekawan.

Darimana kelakukan itu kudapat ya? Mungkin higherselfku membisikkan “Its ok dear, suatu saat kamu bakal jadi model beneran kok. Latihan sejak dini.” Ahahaha….. Atau emang narsis bawaan Leo.

Waktu SMA aku pengen banget jadi pasukan pengibar bendera nasional. Keren lah kelihatannya mbak dan mas cakep itu. Tapi aku gagal dua kali di tahap kabupaten karena terlalu kurus. Setengah mati aku naikin berat badan dan latihan. Bahkan di kosan jaman SMA dulu aku latihan sendiri. Tetep aja terlalu kurus dan gak seimbang antara tinggi dan berat. Huwee…


Ya gitulah sepenggal kisah masa lalu. Intinya, bagaimanapun keadaan kita, pasti ada lebih ada kurangnya. Pandai-pandai lihat peluang apa yang bisa dilakukan. Apa potensi diri sendiri.
Terus poin paling penting dari kisah ini, yang pengen aku sampaikan adalah jadilah wanita kuat ledies. Serius! Fisik dan mental.

Kuat fisik itu imbasnya juga kuat mental. Kagak cupu. Kalau ada yang berani macem-macem kita bisa membela diri. Kalau lemah ngomong aja susah, suara lirih, badan gemetar. Lah lemah letih lesu. Jadi sasaran empuk untuk dibully dan ditindas. Sayangi dirimu sendiri jangan mau diperlakukan buruk.

Kalau fisik kuat mental kuat, ada yang macem-macem wani misuh lah minimal. Wani gelut lebih oke. Ahaha….

Apa! Apa!


Film soal detektif, mata-mata dan agen rahasia agaknya udah bisa ditebak. Jalan cerita yang dipenuhi aksi dan peralatan canggih. Kalau gak ada yang fresh dan beda, bakal jadi film yang biasa-biasa aja.

Tapi film Spies In Disguise emang beda. Film yang bisa ditonton semua usia ini memadukan antara Lance Sterling (Will) agen Amerika Serikat yang sangat individualis dengan Walter. Anak jenius yang punya cita-cita membuat senjata yang tidak berbahaya. Bayangkan agen rahasia tanpa bom dan pistol.



Mereka berdua bisa dibilang sangat bertolak belakang. Lance menginginkan senjata yang bisa membunuh atau setidaknya ampuh untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Walter ingin membuat senjata yang bahkan tidak menyebabkan luka apalagi kematian. Aku paling suka bom glitter dengan foto kucingnya. Alih-alih bom yang bikin luka-luka, justru bom ala Walter bisa bikin bahagia. Glitter dan kucing mengalirkan endorfin!

Film ini dibuka dengan kisah Walter kecil. Seperti kebanyakan anak jenius lainnya. Walter kecil dianggap aneh oleh teman dan orang-orang disekitarnya. Dia tidak menyukai sekolah dan merasa tidak dipahami. Tapi ada sosok ibu yang selalu mendukung Walter. Kelihatan banget bahwa peran orang tua seharusnya mendukung seorang anak. Bagaimanapun keadaannya. Bukan menyuruhnya mengikuti keinginan masyarakat. Tapi menjadi pendukung utama apapun kelebihan dan kekurangan anak.

Yak, Ibu Water adalah seorang polisi panutan dan orang tua teladan. Teriakan orang tua yang meminta anaknya menjadi lebih sempurna dan istimewa itu.. bikin lelah. Iya kan, kamu yang suka dibanding-bandingkan?

Kisah hidup Walter berkembang dan akhirnya dia menjadi salah satu pembuat gadget untuk para agen rahasia. Hingga terbangun konflik antara dia dan Lance. Akhirnya Walter dipecat dari pekerjaannya.

Disisi lain, Lance yang dijebak akhirnya datang pada Walter. Konflik demi konflik terus bermunculan. Diselingi dengan komedi yang bisa membuat penonton tertawa. Di tengah adegan-adegan menegangkan terselip adegan lucu yang sangat menghibur.

Petualangan Lance yang berubah menjadi merpati bersama Walter membuat keduanya meleburkan ego masing-masing. Lance akhirnya menjadi lebih lembut dan bisa bekerja sama dengan orang lain. Walter juga bisa mewujudkan mimpinya dan menciptakan gadget tanpa kekerasan.

Bagi Lance, melawan api adalah dengan api. Tapi bagi Walter, jika api dilawan dengan api bisa menyebabkan kebakaran yang lebih hebat. Walter ingin mengubah cara agen rahasia menjalankan misi. Menggunakan gadget dan peralatan yang tidak berbahaya.

Musuh utama dalam film Spies in Disguis ini juga motivsinya balas dendam karena semua rekannya dibantai oleh Lance.

Film keluarga ini masih mengandung beberapa adegan pria telanjang dan kekerasan. Jadi kalau mengajak anak-anak perlu diawasi dan siapkan jawaban untuk kemungkinan pertanyaan yang mereka lontarkan. Misalnya kenapa manusia bisa berubah jadi merpati? Penjelasan singkat Walter tentang DNA dan sebagainya pasti bikin bingung anak-anak dan orang awam. Juga pertanyaan seputar kekerasan dan penggunaan senjata.

Menurutku bagian yang kurang dari film ini adalah aksi Lance ketika menjadi merpati. Aku menunggu Lance dalam bentuk merpati bisa terbang, melakukan hal-hal cerdik layaknya yang dikatakan Walter. Tapi ternyata tidak. Lance bahkan bisa terbang baru di akhir film. Meski banyak juga adegan lucu saat dia menjadi merpati bersama dengan teman-teman merpatinya.

Kalau dibandingkan dengan film ciptaan Blue Sky Studios lainnya (Ice Age dll) animasi film Spies in Disguis tergolong biasa aja sih. Tapi sosok Lance ini mirip banget dan bisa menyatu sama Will Smith yang jadi pengisi suaranya.