Tulisan Terbaru

Ketika Manusia Bukan Lagi Manusia

Miris sekali membaca berita akhir-akhir ini. Banyak kejahatan sadis yang terjadi dengan tersangka yang bukan hanya orang dewasa namun juga anak-anak! Ironis melihat anak-anak itu mampu berubah menjadi pribadi yang begitu kejam. Apalagi hanya karena cinta. Cinta yang dihadirkan Tuhan kepada hati manusia agar kita saling menyayangi justru menjadi alasan kekejaman. Tidak,,  jelas bukan itu tujuan Tuhan menurunkan rasa cinta pada hati manusia. Tapi orang-orang yang tidak berfikir itu justru menjadikan cinta sebagai alasan untuk merusak.

Lalu, mereka yang membunuh jiwa yang seharusnya tidak diperbolehkan untuk dibunuh hanya mendapat hukuman 8-10 tahun, itupun dapat potongan. Semacam diskon akhir tahun atau hari raya. Lucu.
Mungkin mereka menikmati kehidupan di penjara. Tertawa, makan, mendapatkan pelatihan... kemudian keluar menghirup udara bebas. Siapa yang menjamin penjahat itu bisa sadar? Hati yang telah mati karena membunuh dan melakukan kejahatan, semudah itukah hidup lagi? Otak yang sudah digunakan untuk menyusun sekenario kejahatan semudah itukan kembali normal? Bahkan penjahat keji itu masih mendapat perlindungan HAM untuk tidak mendapatkan hukuman mati.

HAM itu singkatan Hak Asasi Manusia. Apakah makhluk yang kejam masih bisa disebut manusia? Misalnya saja sebuah mainan berbentuk buku. Sangat mirip buku. Tapi tetap tidak bisa disebut buku. Karena buku harus memenuhi beberapa kriteria, seperti ada ilmu/tulisan di dalamnya, bisa di buka dan dibaca, ada halamannya dll. Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan hati, dengan pikiran dan perasaa, menjadi makhluk yang paling tinggi derajadnya dari makhluk lain. Tapi, jika manusia tega melakukan kekejaman, hilang akal, berapa persen sisi kemanusiaannya masih tersisa? Hak asasi macam  apa yang perlu dibela untuknya? Apakah dia/mereka yang mati sudah kehilangan haknya sebagai manusia dan tidak perlu dibela karena tidak ada lagi di dunia ini?

Kadang aku pikir ini lucu-lucu ironis. 
yah,, setiap orang bisa beda pendapat.

No comments