Perjalanan Odysseus Bukan Sekadar Pulang ke Kampung Halaman, Tapi Juga Pulang ke dalam Diri
Sebelum datang ke Biskop, aku tidak berekspektasi apa-apa tentang film The Odyssey. Bahkan sempat mikir, bakalan bosen gak ya nonton film dengan durasi tiga jam kurang dua menit ini? Tapi ternyata, kisah perjalanan Odysseus untuk pulang ke Ithaca sungguh memikat dan mendebarkan.
Film The Odyssey disutradarai oleh Christopher Nolan,
mengadaptasi salah satu karya sastra epic The Odyssey karya penyair Yunani
Kuno, Homer. Setelah sedikit mencari informasi tentang Odysseus, ada perbedaan
tentang alur cerita kepulangannya. Kisah lain, ada yang tidak sama alurnya
dengan film. Seperti, dalam filmya Odiysseus hanya sendirian ketika bertemu
Calypso. Di kisah lainnya, dia masih bersama awak kapal ketika bertemu Calypso.
Perjalanan Odysseus menjadi penuh rintangan karena campur
tangan dewa. Odysseus yang terkenal cerdik dan banyak akal, menjadi sombong dan
tidak berfikir secara bijak setelah merasa berjasa dalam memenangkan peperangan.
Misalnya ketika dalam film dia melukai Cyclops yang ternyata adalah adalah anak
Poseidon. Cyclops itu kemudian berdoa kepada ayahnya untuk membuat perjalanan
Odysseus gagal, dia harus kehilangan sahabat-sahabatnya, kehilangan kapal dan
semua yang dimiliki. Poseidon yang menguasai lautan pun memberikan badai dasyat
kepada Odysseus dan awak kapalnya.
Beberapa rintangan ditemui Odysseus dan awak kapalnya dalam
perjalanan selain Cyclops. Dia bertemu dengan penyihir Circe yang memiliki
kemampuan mengubah manusia menjadi hewan, para Siren, pulau dengan manusia
raksasa yang menghancurkan dua kapalnya, pulau dewa matahari dengan ternak suci
yang tidak boleh dimakan dan monster laut.
Setelah mengalami banyak kesulitan selama 10 tahun, Odyssesus
yang tinggal seorang diri terdampar di Pulau Ogygia. Di sana ia diselamatkan
oleh nimfa Calypso. Tapi meskipun diselematkan, Odysseus diberi makan bunga teratai
yang bisa menghilangkan ingatan. Odysseus Kembali terjebak dalam pulau itu
selama 7 tahun. Meskipun ingatannya sempat hilang, tekad Odysseus untuk pulang
dan bertemu dengan keluarganya membuat alam bawah sadarnya mencari cara untuk
pulang. Odysseus mengumpulkan kepingan-kepingan kayu sisa kapalnya untuk
membuat rakit. Melihat tekadnya itu, Dewa Calypso akhirnya membebaskannya.
Perlahan membantunya mengingat kembali dan melarangnya memakan bunga teratai.
Sementara itu, di Ithaca, Penelope tetap setia menunggu
kepulangan suaminya. Meskipun tekanan untuk memilih suami baru semakin kuat.
Penelope tetap teguh menanti kepulangan Odysseus. Hingga akhirnya, anaknya
Telemachus pergi dari Iticha menuju Sparta untuk mencari informasi tentang
keberadaan ayahnya. Di Sparta, Telemachus disambut dengan baik oleh raja
Menelaos. Di sinilah penonton mendapatkan kisah bagaimana raja Agamemnon yang
sudah pulang dengan selamat justru berakhir di tempat orang-orang mati. Kok bisa
Rajanya mati? Kamu harus nonton filmya langsung ya!
Setelah perjuangannya yang rasanya mustahil untuk bisa
selamat dan kenbali pulang bertemu keluarga, akhir dari film ini happy kok.
Odysseus masih bisa bertahan hidup meski ditusuk berkali-kali, diterjang ombak,
dipanah, dan ditombak.
Bagian paling berkesan bagiku adalah musik yang mengiringi
adegan demi adegan. Musiknya bikin suasana jadi megah, wah, menegangkan,
pokoknya bagus banget deh! Selain itu, sisi refleksi dari Odysseus tentang
perang Troya dan sifat-sifat manusia juga menarik. Membuat aku yakin bahwa
menang atau kalah, peperangan menelan banyak korban, kehilangan, menyisakan
kesedihan mendalam dan rasa sakit. Pahlawan bagi pihak yang menang berate
penjahat bagi pihak yang kalah. Karena kekalahan juga diiringi dengan kematian,
penyiksaan dan perampasan harta benda. Mereka yang memenangkan pertarungan,
mendapatkannya dengan menghancurkan peradaban, bahkan membunuh wanita dan
anak-anak. Dari film ini aku juga merasa bahwa Dewa itu adil saja, karena
mereka menerima doa dan memberikan balasan pada setiap perbuatan buruk manusia.
Seorang pahlawan dan seorang raja tidak luput dari hukum karma dari apa yang
sudah dilakukan.
Film ini tidak hanya sekadar perjalanan pulang secara fisik
ke kampung halaman, tapi juga perjalanan batin Odysseus. Makna apa yang dia
temukan selama perang dan perjalanan pulang. Serta interkasinya dengan Athena
yang bagiku seperti menggambarkan dialog dengan Tuhan. Athena digambarkan
memandunya untuk pulang, tidak hanya pulang ke rumah tapi juga pulang ke
dirinya sendiri. Di jaman sekarang ini, kita sering mencari berbagai cara external
untuk mendapatkan kedamaian. Padalah kedamaian berasal dari Tuhan dan ada di
dalam diri. Bisa ditemukan ketika manusia pulang, bukan justru mengembara di
luar sana. Perjalanan pulang ini juga tidak selalu mudah, ada saja rintangan
yang membuat diri tersesat. Ada yang perjalanannya pendek ada yang lebih
panjang. Setiap orang menempuhnya dengan cara yang berbeda. Tapi dengan pantang
menyerah dan mendengarkan tuntunanNya, kitab isa kembali pulang ke dalam kedamaian
dan kebahagiaan. Seperti ending dari film The Odyssey.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar