Tampilkan postingan dengan label urban farming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label urban farming. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Februari 2018 Jogja berkebun kedatangan tamu istimewa sekali. Ibu Ida, merupakan salah satu co Founder Indonesia Berkebun dan pegiat urban farming. Ibu Ida itu orang baik banget dan santai. Aku bertugas untuk menjemput dan mengantar beliau, jadi bisa ngobrol banyak. Asyik lah beliau ini orangnya. Udah ke Jogja biaya sendiri seharian ngasih materi, keren banget. i admiring her from the first time we meet. Acara ini diadakan di Caping Merapi, mau kepo silahkan search IGnya ya.. banyak anggrek di sana.



Materi pertama yang disampaikan beliau adalah menenai Indonesia berkebun itu sendiri. Bagaimana sejarah berdirinya, tujuannya, dan kegiatan-kegiatan Indonesia Berkebun saat ini. Indonesia berkebun merupakan komunitas sosial yang menyebarkan semangat berkebun. Inisiatornya dulu Kang Emil yang memanfaatkan lahan kosong di Jakarta untuk menanam bersama. Indonesia berkebun memiliki tiga landasan utama, Ekologi, Ekonomi, dan Sosial. Jadi dengan berkebun kita memahami fungsi lingkungan sekaligus merupakan kegiatan sosial yang bernilai ekonomi. Bukan hanya sekadar menanam dan memanen tanpa makna.

Menanam terlihat sederhana, menunggu tumbuh, panen dan dikonsumsi. Ya, tujuan utama menanam memang untuk kepentingan konsumsi. Selain memahami bagaimana cara menanam yang benar, kita juga harus mengetahu manfaatnya, agar selalu bersemangat untuk terus mananam. Ada beberapa poin yang disampaikan Bu Ida.

Menanam yang ada nilai gizinya. Memang dengan asal menanam saja tanaman tetap akan tumbuh dan bisa dipanen. Tapi belum tentu sayuran atau buah tersebut mengandung nilai gizi yang dibutuhkan tubuh atau mengandung nilai gizi seperti yang seharusnya. Cara menanam, media yang digunakan, penggunaan pestisida sangat berpengaruh terhadap kandungan gizi pada tanaman. Bahkan cara yang salah dapat menyebabkan tanaman terkontaminasi logam berat. menggunakan air atau tanah terkontaminasi atau menanam di dekta jalan raya yang banyak polusi timbal misalnya. Menyebabkan polusi atau racun tersebut terserap tanaman dan justru kita makan. Jadi perhatikan metode yang digunakan dan rawat tanaman dengan baik. Nutrisi yang akan kita makan berbanding lurus dengan nutrisi yang kita berikan. Ya kalau tanamannya hidup seadanya makan yang kita makan nutrisinya juga seadanya donk. Jangan berharap tanaman yang terlantar bisa dengan sendirinya memberikan zat-zat gizi seperti yang kita inginkan.

Memperhatikan media tanam. Pelajaran biologi ini. Jadi di dalam tanah, di daerah perakaran itu ada yang namanya Rhizosphere. Semacam lingkungan perakaran dengan berbagai macam mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Jika lingkungan ini terjaga dengan baik, maka tanaman akan tumbuh subur. Karena penyerapan nutrisi juga dibantu oleh mikroorganisme tanah. Bukan hanya pupuk saja yang penting. Belum tentu pupuk yang kita berikan itu bisa terserap sempurna lo sama tanaman. Pupuk bisa diserap tanaman jika ada bantuan mikroorganisme dan pH tanah seimbang. Intinya menjaga kesuburan tanah itu sangat penting, tidak hanya memberi pupuk saja. Bagaimana cara menciptakan lingkungan perakaran yang baik ini? Pakai pupuk kandang atau kompos saat menanam. Biar tanahnya bisa recovery. Tanah yang digunakan terus-menerus tanpa recovery akan menyebabkan penurunan hasil produksi dan bahkan tidak dapat ditanami lagi.

Materi selanjutnya adalah mengenai penataan kebun. Apalagi kalau kita ingin hasil panennya bisa bernilai ekonomis. Maka penataan seperti pembuatan bedeng dan menyeseuaikan waktu panen sangat penting.

Ada banyak yang disampaikan Ibu Ida sebenarnya. Bisa menjadi topik tulisan yang berbeda-beda. Tentang filosofi menanam dan kebun Al Quran juga. Lain waktu saja ya kalau ingat aku tulis tentang dua topik itu. Hehehe... Mau ganti nulis yang lain.

Sampai Jumpa di Kegiatan Jogja Berkebun Selanjutnya...

Pada serius



Semangat Menanam yak.....

Paijo, kucing paling ganteng di Caping Merapi